Kain Tenun Tolaki

Diposkan oleh Majalah Expo Sabtu, 10 April 2010

Sebagian besar wanita tolaki sejak dulu dikenal mahir menenun, bahkan istri-istri para raja tolaki pun pandai menenun. Sehingga, kerajinan tenun tolaki berkembang cukup pesat semenjak dahulu sampai sekarang. Hasil karya tenunan masyarakat tolaki tersebut sampai sekarang menjadi salah satu primadona masyarakat Sulawesi Tenggara.
Kecintaan masyarakat tolaki terhadap tradisi menenun menjadi salah satu ruh dalam menjaga kelestarian tenun tersebut. Bahkan, masyarakat mempunyai cara yang bagus dalam menjaga warisan itu, salah satunya dengan menjadikan karya tenunan sebagai pakaian pesta kebesaran adat yang ada di masyarakat tolaki. Masyarakat setempat merasa ada yang kurang jika pesta yang diadakan tidak menggunakan pakaian kebesaran yang dihasilkan para pengrajin tenun tolaki.
Kain bercorak yang terkenal pada masyarakat Tolaki ialah corak Muar dengan menggunakan warna-warna dari cahaya muda dalam bentuk susunan petak dam. Warna yang sering digunakan ialah kelabu, merah samar, jingga muda, putih, biru laut, hijau lumut dan kuning susu. Terdapat juga penggunaan cabang benang emas yang menghasilkan bentuk motif garis halus atau kesan titik berbunga kecil, bertabur menghiasi ruang dan bidang-bidang bewarna. Bentuk motif yang terdapat pada kain tenun bercorak dikenali sebagai kain corak hujan panas yaitu kesan berkilat disebabkan oleh benang emas. Sedangkan garis lurus yang halus dari benang emas disebut sebagai tenun/songket selit.
Berbekal dari kecintaan masyarakat yang menjadikan karya tenunan sebagai pakaian kebesaran, Saripah Intan tetap mempertahankan usaha tenunnya. Sarifah telah mewarisi bakat menenun mulai dari usia belia, pada saat beliau berusia 7 Tahun beliau telah membuat kain tenunan pertamanya pada usia yang boleh dikatakan masih sangat muda. Akan tetapi kain tenunan yang di hasilkan pada saat itu dapat dikategorikan sebagai hasil tenunan yang lumayan untuk penenun pemula walaupun masih jauh dari kesempurnaan.
”Dulu kain tenun tolaki yang dipakai oleh masyarakat dapat dijadikan sebagai penanda strata atau status sosial masyarakat. Untuk gadis dari kalangan umum, biasanya kain tenun yang dikenakan adalah kain tenun dengan motif yang sederhana (kasopa). Sedangkan gadis dari kalangan bangsawan, biasanya memakai kain tenun dengan motif yang lebih rumit dengan dominasi warna perak (kumbaea)” katanya.
Dengan ketekunan dan kesabaran dalam menjalankan usahanya, Saripah dapat menambah pengahasilan keluarga. Lihat saja, harga dari kain tenun yang dihasilkan. “Harga kerajinan tenun tolaki cukup bervariasi tergantung tingkat kerumitan dan kualitasnya. Tenun sarung kualitas I harganya sebesar Rp 250.000/buah, sementara sarung dengan kualitas II harganya sebesar Rp 150.000/buah Tetapi bisa melebihi dari harga tersebut jika ada pesanan dari orang tertentu” tandasnya.
Biasanya karya tenunan ini dipesan oleh instansi-instansi pemerintah yang dipakai sebagai baju persatuan yang melambangkan kecintaan terhadap kebudayaan daerah. Melihat hal tersebut, usaha ini cukup potensial untuk dikembangkan.
”saya dengar, kain tenun ini juga pernah dikirim ke Belanda untuk mengikuti pameran kedaerahan” ujarnya. Wah ternyata, karya tenunan masyarakat tolaki bisa mewakili kita dalam pameran yang berstandar internasional.
Dia menambahkan, ”mungkin karena motif tenun tolaki biasanya menggambarkan obyek alam yang kita temukan di sekitar kita. Inilah yang menjadi kekuatan serta daya tarik hasil karya kain tenunan tolaki, di samping motif-motif yang sangat bervariasi dan kaya warna.
Pada usaha Ibu Sarifah ini beliau membuat tenunan dengan ATBM ( Alat Tenunan Bukan Mesin) alat tersebut dipesan seharga Rp. 10.000.000,- Alat tersebut di pesan dari daerah Sulawesi Selatan. Ibu Sarifa meneruskan usaha kerajinan yang telah turun-temurun ini dengan keseriusan, walaupun sering terjadi pasang surut yang dikarenakan bahan tenunan seperti benang yang biasa di gunakan oleh ibu Sarifah kualitasnya meragukan contohnya benangnya kurang halus, dan kurangnya pemasaran karena kurangnya sarana pemasaran dimana ibu Sarifah hanya mengandalkan pesanan perseorangan maupun instansi, sehingga penghasilannya tidak menentu tiap bulannya.
Sekarang, usaha ini mempekerjakan 5 tenaga kerja yang masih terikat hubungan keluarga dengan Saripah.

0 komentar

Poskan Komentar

tinggalkan pesan anda untuk kami.

ShoutMix chat widget
Blogumulus by Roy Tanck and Amanda FazaniInstalled by CahayaBiru.com

Followers